Anda Dan Pasangan Berniat Membuat Perjanjian Pra-Nikah? Yuk, Simak!

Anda Dan Pasangan Berniat Membuat Perjanjian Pra-Nikah? Yuk, Simak!

Informasi Terkini – Munculnya konflik dalam kehidupan rumah tangga sebenarnya merupakan sesuatu yang lumrah. Tentunya dibutuhkan komunikasi dan kompromi yang sehat agar dua kepala dapat menyelesaikan gesekan konflik yang terjadi tanpa harus berujung pada perpisahan. Meski kemunculannya terkadang sulit dihindari, namun kerugian yang diakibatkan konflik rumah tangga tetap dapat diminimalisir, salah satunya dengan melakukan perjanjian pra-nikah (prenuptial agreement). Membuat perjanjian ini memang tidak mudah, apalagi di Indonesia sendiri belum banyak masyarakat yang mempraktikannya. Nah, jika Anda dan pasangan tengah berniat melakukan perjanjian pra-nikah, coba ketahui dan perhatikan hal-hal berikut ini terlebih dahulu!

1. Diskusikan dengan pasangan dalam keadaan tenang

Hal yang sangat krusial seperti perjanjian pra-nikah akan lebih baik jika didiskusikan saat Anda dan pasangan berada dalam kondisi tenang. Jangan pernah mencoba mendiskusikan perjanjian pra-nikah saat keduanya tengah mengalami konflik atau di masa-masa kasmaran. Pasalnya, munculnya emosi yang berlebihan dapat mengaburkan logika dan pertimbangan. Sebagai perjanjian yang mengikat secara hukum, prenuptial agreement haruslah berisi klausul-klausul yang obyektif dan tidak merugikan salah satu pihak. Oleh karenanya, sebelum melakukan perjanjian ini, pastikan Anda beserta pasangan telah membersihkan pikiran dari hal-hal yang terlalu emosional dan sentimental.

2. Siapkan semua pertanyaan

Setelah berada dalam kondisi tenang, persiapkan daftar pertanyaan yang harus Anda berdua jawab dalam proses diskusi nanti. Pastikan Anda berdua paham dan tahu betul mengapa opsi perjanjian pra-nikah penting bagi hubungan ini. Bicarakan semua kemungkinan yang kemungkikan akan terjadi dalam pernikahan beikut dengan solusinya. Kemudian, diskusikan segala hal secara transparan.

Menyimpan ‘kartu’ untuk diri sendiri bukanlah langkah yang tepat jika Anda ingin membuat perjanjian pra-nikah. Pasalnya, menutupi situasi justru hanya akan memperburuk proses pembuatan perjanjian pra-nikah. Selain itu, pastikan Anda berdua tak lupa untuk mencatat seluruh hal yang sudah disepakati agar tidak ada yang terlewat.

3. Berkonsultasi pada tenaga ahli

Setelah memiliki ringkasan apa saja yang akan dimasukkan ke dalam perjanjian pra-nikah, ada baiknya Anda dan pasangan mengunjungi konselor pernikahan atau psikolog untuk membahas rencana ini. Setelahnya, jangan lupa pula untuk mengatur pertemuan dengan pengacara agar Anda dan pasangan bisa mendapatkan penjelasan yang komprehensif dari sisi hukum. Apalagi, mengingat perjanjian ini tak hanya melibatkan kondisi psikis Anda dan pasangan, namun juga keabsahan hukum.

Dengan berkonsultasi pada tenaga ahli, Anda dan pasangan jadi lebih tahu hal apa saja yang perlu dan tidak untuk dimasukkan ke dalam perjanjian pra-nikah. Selain itu, layaknya berdiskusi dengan pasangan, pastikan Anda berdua tidak menutupi hal apapun dari konselor dan pengacara guna memudahkan kesahihan perjanjian pra-nikah, ya!

4. Cek ulang semua hal

Tidak ada salahnya untuk menjadi lebih teliti, terutama dalam proses pembuatan perjanjian pra-nikah. Jika Anda telah sampai pada tahap memiliki draf perjanjian pra-nikah, perhatikan lagi tiap klausul yang ada di dalamnya. Selain meminimalisir adanya poin-poin yang hanya disetujui oleh salah satu pihak, hal ini juga penting dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada unsur keterpaksaan di pembuatan perjanjian tersebut.

Dikarenakan perjanjian pra-nikah memiliki kekuatan hukum, Anda tentu tidak ingin di kemudian hari menemukan kesalahan atau celah yang membuat perjanjian ini tak lagi mampu melindungi Anda dan pasangan. Untuk itu, selalu lakukan pengecekan ulang bersama-sama sebelum draf perjanjian pra-nikah disahkan. Setelah dirasa cukup, Anda dan pasangan dapat menyerahkan draf tersebut pada pengacara yang telah ditunjuk untuk diperiksa kembali sebelum diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang ada.