Beberapa Jenis Pertengkaran Yang Dapat Menghancurkan Hubungan Menurut Psikolog

Beberapa Jenis Pertengkaran Yang Dapat Menghancurkan Hubungan Menurut Psikolog

Informasi Terkini – Dalam sebuah hubungan, pasti ada yang namanya perbedaan pendapat atau perselisihan kecil yang justru dapat memperat hubungan atau mengenal pasangan lebih baik. Semua tergantung bagaimana Anda menyikapinya. Jangan sampai saat bertengkar dengan pasangan, Anda malah terus-terusan berpikir negatif. Lalu, bagaimana Anda bisa menilai sebuah pertengkaran itu baik atau buruk? Seorang psikolog, Dr. John Gottman, memprediksi dengan keakuratan 91% jika suatu hubungan akan berakhir jika pasangan mengalami perselisihan mengenai hal tertentu. Setelah meluangkan setengah hidupnya untuk mempelajari kebiasangan pasangan, Dr Gottman menemukan bahwa orang-orang yang berpisah cenderung berdebat dalam hal-hal berikut ini.

1. Kritik

Kritik adalah cara menangani masalah yang melibatkan penyerangan dan menyalahkan orang lain secara keseluruhan. Ketika mengkritik pasangan, Anda menyiratkan bahwa ada sesuatu yang salah dan tidak dapat diubah tentangnya, terutama karena kritik sering dipasangkan dengan kata-kata “selalu” dan “tidak pernah.” Ini akan membuat pasangan merasa diserang dan ditolak. Jika Anda terbiasa mendapati diri mengatakan hal-hal pada pasangan seperti, “Anda tidak pernah peduli,” atau “Anda selalu egois,” maka besar kemungkinan diri Andalah tukang kritik dalam hubungan.

Merasa sering melakukan hal tersebut dan ingin mengubah perilaku ini? Psikolog di Gottman Institue merekomendasikan bentuk penyelesaian sebagai berikut:

– Jelaskan situasi tanpa menghakimi. Buang penggunaan kata “selalu” dan “tidak pernah.”
– Ekspresikan sejelas mungkin bagaimana perasaan Anda mengenai hal yang dirasakan.
– Minta apa yang Anda butuhkan dengan cara yang positif.

Ingat, hal ini memang bukan tanda perpisahan, tetapi masih pada tahap prediksi yang perlu lebih diperhatikan karena cenderung mengarah pada perpisahan.

2. Penghinaan

Dalam penelitiannya selama empat dekade, Dr. Gottman menemukan bahwa penghinaan adalah prediksi perpisahan nomor satu. Saat berkomunikasi dengan setengah hati, Anda dianggap telah berbuat ‘jahat’ terhadap pasangan sekaligus menunjukkan rasa tidak hormat. Jika Anda terbiasa mengejek, menyindir, meledek, dan melakukan eye-rolling saat ia menjelaskan sesuatu, maka itu berarti Anda telah melakukan penghinaan. Perbuatan ini akan membuat pasangan merasa tidak dihargai dan tidak berarti. Hindari perilaku buruk ini dengan melakukan hal berikut:

– Lain kali ketika Anda dan pasangan berdebat, coba untuk menurunkan toleransi terhadap komentar dan perilaku menghina.
– Berusahalah membangun budaya menghargai. Penghinaan muncul ketika seseorang berfokus pada kualitas yang tidak disukai dalam diri pasangan, sehingga Anda perlu melakukan hal yang sebaliknya. Berkonsentrasilah pada hal-hal yang Anda hargai tentang pasangan dan tulis sesuatu yang Anda syukuri dalam menjalin hubungan dengannya.

3. Defensif

Melakukan pertahanan diri atau defensif menjadi salah satu sikap yang dapat menghancurkan sebuah hubungan. Biasanya, defensif menjadi sebuah respon terhadap kritik. Ini menyiratkan bahwa Anda membuat alasan dan berperan sebagai korban yang tidak bersalah. Bahkan, terkadang Anda menyalahkan pasangan sehingga ia berhenti berargumen. Namun, bersikap defensif juga tidak akan membantu karena Anda seolah-olah tidak menganggap serius sebuah masalah dan tidak ingin bertanggung jawab atas tindakan yang sudah dilakukan.

Jika Anda terbiasa mengatakan hal seperti, “Saya tidak melakukan kesalahan apapun,” atau “Ini bukan salah saya, tapi Anda,” maka besar kemungkinan Anda sudah menjadi orang yang bersikap defensif. Ubah perilaku tersebut dengan melakukan berbagai hal yang direkomendasikan oleh Gottman Institue berikut ini:

– Luangkan waktu untuk mendengarkan pasangan Anda secara aktif.
– Bertanggung jawab jika memang diharuskan.
– Katakan Anda menyesal dengan cara yang jujur.

4. Menutup diri

Saat bertengkar, bukan berarti dapat Anda menghilang dan menjadi sulit dihubungi guna menghindari pertengkaran. Saat melakukan hal ini, Anda tengah memasang dinding besar dengan pasangan sekaligus menarik diri dari pertengkaran, serta menjauhkan diri secara fisik dan emosional. Perilaku diam dan menutup diri ini dapat merusak karena membuat pasangan merasa seolah ditolak dan ditinggalkan.

Jika Anda membutuhkan waktu untuk menyelesaikan masalah, sebaiknya tarik napas dalam-dalam, lalu coba renungkan dan minta waktu untuk introspeksi diri. Kemudian, lanjutkan ketika Anda siap. Hanya dengan cara ini pasangan Anda akan mengerti bahwa Anda sedang berusaha untuk menjaga diri sendiri dan mempertahankan hubungan yang sedang dijalani.