Dampak Negatif Dari Terlalu Sering Berpura-pura Bahagia Bagi Kesehatan Mental

Dampak Negatif Dari Terlalu Sering Berpura-pura Bahagia Bagi Kesehatan Mental

Informasi Terkini – Pernahkah Anda merasa sedikit cemburu dengan kehidupan orang lain, yang hidupnya selalu terlihat bahagia dan adem ayem saja? Jika iya, mungkin Anda perlu kembali mengingat pepatah "tak ada gading yang tak retak”. Yup, semua manusia yang hidup di dunia ini pasti memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Namun memang dewasa ini banyak orang yang lebih sering mengunggah atau memperlihatkan kebahagiaan mereka di muka umum, salah satunya pada media sosial. Namun kita sebagai penonton tak pernah tahu apakah kebahagiaan yang ditampilkan tersebut benar adanya atau hanya pencitraan, alias berpura-pura bahagia. Sebenarnya berpura-pura bahagia memiliki beberapa manfaat, salah satunya adalah memperbaiki mood. Namun, terlalu sering berpura-pura bahagia ternyata memiliki efek negatif bagi kesehatan mental, lho!

1. Berpura-pura tersenyum saat suasana hati sedang tidak baik dapat memperburuk kondisi hati

Terkadang saat sedang dalam suasana hati yang tidak baik, kita merasa perlu untuk menyembunyikan perasaan ketika harus berhadapan dengan orang-orang di sekitar, dengan selalu berpura-pura tersenyum atau tertawa saat bersama dengan mereka. Namun, seperti yang dikutip dari New York Times, sebuah hasil penelitian yang terbitkan oleh Academy of Management Journal menyebutkan bahwa berpura-pura tersenyum saat suasana hati sedang tidak baik, atau berusaha menekan pikiran negatif, ternyata, bisa jadi membuat pikiran-pikiran negatif tersebut menjadi lebih kuat, daripada saat kita tidak malu mengekspresikan dengan jujur perasaan ataupun pikiran kita yang sebenarnya.

2. Berpura-pura bahagia justru akan membuat kita lemah dan mudah tertekan

Setiap orang tentu ingin memiliki kehidupan yang selalu bahagia. Namun menurut Brinkmann, seorang ahli psikolog asal Denmark, terlalu terobsesi dengan kebahagiaan justru dapat menciptakan rasa stres dan depresi yang mendalam ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspetasi. Selain itu Brinkmann juga mengatakan jika ia percaya untuk memiliki keseimbangan dalam hidup maka pikiran dan emosi harus sesuai dengan kenyataan yang terjadi pada hidup yang dijalani. Jadi jika Anda sedang merasa bersedih tidak ada salahnya untuk mengekspresikan perasaan tersebut. Kita perlu menghadapi dan menerima kesedihan atau masalah yang hadir karena dari situ Anda dapat belajar untuk kuat dan mengatasi masalah-masalah besar yang datang ke depannya.

Jika kita terus menerus berusaha merasa baik-baik saja dalam situasi dan kondisi apapun termasuk di saat yang sulit. Maka saat hal terburuk menimpa, Anda akan benar-benar terpuruk dan sedih. Hal ini dikarenakan diri Anda tidak terbiasa untuk menunjukan kesedihan dan selalu memalsukannya dengan pura-pura bahagia. Sehingga pada akhirnya tidak ada orang yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada diri Anda, dan Anda pun tidak akan mendapatkan suntikan semangat dari orang lain.

3. Selalu berpura-pura bahagia bisa menciptakan rasa tidak puas dalam hidup

Dalam penelitian yang dilakukan oleh seorang psikologi sosial asal Australia, Brock Bastian ia membuat dua kelompok uji coba. Satu kelompok ditempatkan pada sebuah ruangan di mana mereka harus merespon segala sesuatunya dengan bahagia. Sedangkan satu kelompok lagi ditempatkan pada ruangan yang membebaskan mereka untuk menunjukkan ekspresi yang mereka rasakan. Hasilnya, partisipan pertama memaksakan diri mereka untuk bahagia, sehingga lebih intens memikirkan hal-hal negatif dibanding kelompok lain yang tidak dipaksa untuk bahagia. Hal ini juga membuat kesehatan emosional serta mental orang-orang yang ada pada kelompok pertama lebih berisiko mengalami stres dan juga depresi bahkan perasaan tak pernah puas dalam hidup.

Jadi, meski kita tidak dianjurkan untuk berpura-pura bahagia, bukan berarti kita bisa terus menerus larut dalam kesedihan. Tentunya kita harus tetap menjalani hidup dan juga melangkah ke depan. Hanya saja, alangkah baiknya jika kebahagiaan yang diperlihatkan berasal dari hati, bukan sebuah kepura-puraan. Karena apapun perasaan yang dirasakan, baik sedih ataupun bahagia merupakan elemen penting dalam hidup yang tidak dapat dihindari.