Ketahui Berbagai Hal Yang Perlu Ditanamkan Untuk Berani Mengatakan Tidak Dan Berhenti Menjadi ‘Yes-Man’

Ketahui Berbagai Hal Yang Perlu Ditanamkan Untuk Berani Mengatakan Tidak Dan Berhenti Menjadi 'Yes-Man'

Informasi Terkini – Membuat orang di sekitar merasa bahagia karena kehadiran atau tindakan Anda memang hal yang menyenangkan. Namun bukan berarti Anda harus terus menerus menyenangkan orang lain hingga rela mengorbankan diri sendiri. Karena kenyataanya Anda tidak bisa membuat semua orang merasa bahagia. Bahkan tak menutup kemungkinan ada orang yang merasa tidak nyaman dan membenci saat Anda berusaha terlalu keras menyenangkan semua orang. Coba berhenti menjadi ‘Yes Man’ yang selalu menyanggupi permintaan orang lain dan belajar untuk mempertimbangkan setiap tawaran dan permintaan yang datang. Sebelum Anda terus berusaha menyenangkan orang lain dengan selalu mengatakan “iya” dan berani mengatakan "tidak”, sebaiknya tanamkan pikiran-pikiran berikut ini terlebih dahulu, ya.

1. Jangan menjelaskan terlalu berlebihan

Kunci untuk mengatakan "tidak” adalah dengan tidak menjelaskan secara berlebihan. Anda tidak harus memberi tahu seluruh alasan mengapa Anda tidak bisa melakukan sesuatu. Itu hanya akan membuat Anda terkesan mencari-cari banyak alasan. Setiap orang memiliki hak untuk meminta bantuan, begitu juga dengan Anda yang juga memiliki hak untuk mengatakan "tidak”. Sesederhana itu.

2. Pertama datang, pertama dilayani

Apakah Anda pernah selalu mengiyakan pekerjaan di kantor sehingga menjadi menumpuk dan tidak sesuai deadline? Jika pernah mengalaminya, cobalah untuk mengembangkan kebijakan pertama yang datang, pertama yang dilayani. Jika Anda mengatakan “iya” kepada seseorang dan kemudian orang lain meminta sesuatu yang baru, nantinya akan sangat menyulitkan. Berhentilah mencoba mengatur ulang segala sesuatu dalam hidup Anda untuk mengakomodasi kebutuhan seseorang.

3. Menyadari diri Anda tidak harus selalu menjadi sesuatu untuk orang lain

Bukan tugas Anda untuk membuat dunia berputar. Jika selalu mengatakan “iya” kepada orang-orang karena merasa itulah alasan Anda lahir ke bumi, maka pemikiran itu seluruhnya keliru. Ada satu kewajiban utama yang tak boleh dikesampingkan, yaitu membuat diri sendiri merasa bahagia. Jika selalu mengatakan “iya” tidak membuat Anda bahagia, ubah kebiasaan ini. Harga diri tidak semata-mata diukur dari apa yang Anda lakukan untuk orang lain. Jika merasa semua kemampuan sudah dikerahkan untuk membantu sekitar, Anda tidak perlu memaksakan hingga mengorbankan kebahagiaan diri sendiri.

4. Menawarkan alternatif waktu dan bantuan yang lain

Saat seseorang meminta bantuan dan Anda tidak dapat melakukannya saat itu juga, cari tahu apakah ada waktu lain untuk bisa menolongnya. Terkadang hal-hal bisa fleksibel dan kadang tidak. Saat seseorang meminta bantuan dan Anda tidak bisa menyanggupinya, coba tawarkan bantuan lainnya, seperti, “Maaf, kalau untuk membantu hal itu saya tidak bisa. Mungkin kalau hal lain, saya bisa bantu,” atau menjawabnya dengan, “Mungkin lain kali bisa membantu.”

Memberi pilihan untuk menemukan waktu atau alternatif lain, tidak sama seperti mengatakan “tidak.” Jika orang itu menolak bantuan atau tidak dapat melakukannya di waktu lain, setidaknya Anda mencoba melakukan lebih dari sekadar mengatakan “tidak.”

5. Mencoba bernegosiasi

Jika seseorang ingin Anda melakukan sesuatu, cobalah sedikit merundingkannya. Misalnya, teman mengajak Anda pergi menemaninya bertemu seseorang di saat Anda ingin bermalas-malasan di rumah saja. Tanyakan seberapa penting kehadiran Anda untuk situasi tersebut dan bagaimana kesanggupan dirinya untuk menjemput dan mengantar Anda pulang. Akankah Anda mendapatkan sesuatu sebagai imbalan untuk meringankan beban Anda? Negosiasi merupakan teknik yang tepat untuk mendapatkan win-win solution. Seiring berjalannya waktu, jika Anda mengatakan “iya” pada semua hal, bahkan ketika tidak mau, Anda mulai merasa terbiasa. Memberi sesuatu untuk mendapatkan sesuatu adalah teknik yang jauh lebih adil untuk kesahatan pikiran, terutama jika selama ini semua kesanggupan Anda melakukan sesuatu harus mengorbankan berbagai hal berharga dalam hidup.