Ketahui Tentang Fenomena ‘Burnout Generation’ Yang Banyak Dialami Para Millennial

Ketahui Tentang Fenomena 'Burnout Generation' Yang Banyak Dialami Para Millennial

Informasi Terkini – Generasi millennial atau yang biasa disebut dengan generasi Y adalah generasi yang dianggap semakin maju dari generasi sebelumnya, karena tumbuh beriringan dengan pesatnya perkembangan teknologi dan modernisasi. Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh generasi millennial adalah kemampuan multitasking, dipenuhi dengan ide kreatif, cepat tanggap, fleksibel dan juga ambisius. Selain itu, generasi millennial juga memiliki standar kesuksesan yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Di balik segala kelebihan yang lekat dengan generasi millennial, ternyata mereka juga mengalami kelelahan sehingga mengalami sebuah fenomena yang disebut dengan ‘burnout generation’. Mengapa demikian? Berikut penjelasannya!

Apa itu fenomena ‘burnout’?

Burnout diartikan sebagai fenomena yang biasanya dialami para pegawai atau pekerja di bidang jasa yang harus berhadapan dengan tuntutan emosional dari berbagai pihak. Fenomena ini juga dialami seseorang yang mengalami terlalu banyak tekanan maupun tuntutan dalam pekerjaan sehingga mengalami kondisi kelelahan secara fisik dan juga stres secara mental. Seseorang yang mengalaminya biasanya menjadi kehilangan semangat dalam bekerja dan merasa bahwa tanggung jawab yang harus mereka kerjakan terlalu berat meski sebenarnya tugas tersebut cukup sederhana.

Istilah ‘burnout’ pertama kali diperkenalkan pada tahun 1974 oleh seorang psikolog bernama Herbert Freudenberger dalam bukunya yang berjudul "Burnout: The High Cost of High Achievement”. Melalui buku tersebut Herbert mengartikan istilah burnout sebagai kondisi ketika seseorang mengalami penurunan produktivitas dan motivasi dalam melakukan sebuah pekerjaan yang ditandai dengan menurunnya loyalitas sehingga membuat tujuan yang sebelumnya ditargetkan tidak tercapai dengan maksimal.

Meski tidak bisa dianggap sebagai sebuah gangguan psikologis, seseorang yang mengalami kondisi burnout menunjukkan ciri yang hampir sama dengan orang yang mengalami depresi atau gangguan kecemasan, seperti: timbulnya perasaan negatif terhadap diri sendiri, dan renggangnya hubungan interpersonal dengan rekan kerja.

Mengapa millennial mengalami fenomena ‘burnout generation’?

Meski lekat dengan berbagai kelebihan dan karakter positif serta tumbuh di masa perkembangan teknologi yang cepat, generasi millennial juga mengalami berbagai kondisi yang rentan membuat mereka rentan merasakan kelelahan psikologis atau burnout. Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab generasi millennial mengalami burnout adalah tantangan ekonomi, persaingan dalam dunia kerja hingga tuntutan dari orang tua yang memaksa mereka menghadapi dunia kerja.

Dalam dunia kerja yang penuh dengan tekanan, memungkinkan generasi millennial berhadapan berhadapan dengan situasi yang tidak nyaman dan membuat mereka stres sehingga mengalami burnout, seperti: tuntutan pekerjaan yang terlalu banyak dan berat melebihi kemampuan, persaingan antar rekan kerja yang tidak sehat, pembagian tugas yang kurang imbang, kurangnya tantangan yang membuat bosan, terlalu perfeksionis atau bahkan kurangnya apresiasi atas keberhasilan yang telah dicapai. Berbagai kondisi tersebut bisa menjadi alasan mengapa generasi millennial seringkali tidak bisa bertahan dalam sebuah perusahaan selama lebih dari 2 tahun.

Solusi untuk mengatasi ‘burnout generation’

Langkah sederhana yang bisa diterapkan setiap individu sebagai generasi millennial untuk menghindari fenomena burnout adalah dengan mencari tahu tentang berbagai hal yang dapat membuat Anda lepas dari stres dan mulai melakukan berbagai hal yang menjadi bukti bahwa Anda mencintai diri sendiri. Tak hanya itu, menerima segala kekurangan dan mengurangi mengurangi sikap perfeksionis juga bisa dilakukan untuk mencegah seseorang mengalami burnout.

Namun secara umum, beberapa hal dalam lingkungan kerja yang bisa membuat millennial merasa nyaman adalah sistem kerja dan pembagian tugas yang jelas, apresiasi dan salary yang sesuai dengan hasil kerja, serta perusahaan yang mau menerima saran dan masukan dari karyawan untuk kemajuan bersama.

Bila Anda merasa saat ini berada pada posisi yang rentan memicu fenomena ‘burnout’, sebaiknya segera lakukan berbagai kegiatan positif yang bisa mengembalikan rasa semangat dan mencintai pekerjaan Anda. Namun bila Anda merasa sudah mengalami beberapa gejala fenomena burnout, coba segera luangkan waktu untuk berkonsultasi dengan ahlinya agar bisa mendapatkan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini.