Ketahui Tentang Kodokushi, Fenomena Tewas Dalam Kesendirian Yang Terjadi Di Jepang

Ketahui Tentang Kodokushi, Fenomena Tewas Dalam Kesendirian Yang Terjadi Di Jepang

Informasi Terkini – Jepang adalah negara dengan segala keunikannya yang membuatnya menjadi salah satu negara paling populer, sekaligus destinasi utama banyak turis. Mulai dari sajian kuliner yang khas seperti sushi dan ramen, ragam produk unik dengan kemasan yang menggemaskan, berbagai kuil dan taman-taman yang kental akan budaya Jepang, hingga kultur kehidupan warga negaranya.

Ya, Jepang juga identik dengan kultur gaya hidupnya, seperti bagaimana orang Jepang sangatlah ‘gila’ bekerja, banyak yang memutuskan untuk tidak memiliki anak, hingga bagaimana warga Jepang memilih untuk tidak menikah dan hidup dalam individualisme. Terkait dengan hal tersebut, hadir sebuah fenomena baru di Jepang, yaitu Kodokushi yang berarti tewas dalam kesendirian.

Fenomena Kodokushi di Jepang

Meskipun telah lama terjadi, fenomena Kodokushi baru dipertegas dengan penemuan seorang petugas kebersihan di Tokyo. Dilansir dari Straits Times, Hidemitsu Ohshima tidak sengaja menemukan sebuah apartemen kecil di Tokyo, dimana di dalamnya ditemukan jenazah seorang laki-laki yang telah meninggal selama 3 minggu. Jenazah yang diperkirakan meninggal di usia 50 tahun tersebut meninggal dalam kesendirian di kota yang ditinggali oleh jutaan orang, tanpa ada yang menyadarinya, dan membuat dirinya menjadi salah satu korban dari Kodokushi.

Kodokushi menjadi masalah yang terus bertumbuh di Jepang, dimana 27.7% populasinya berusia di atas 65 tahun, telah lelah mencari pasangan hidup, dan memutuskan untuk hidup dalam kesendirian. Menurut pendapat para ahli, fenomena ini terjadi karena faktor kombinasi dari kultur hidup dan sosial di Jepang serta faktor demografi.

Meskipun belum terdapat angka pasti jumlah orang Jepang yang meninggal dalam kesendirian dan tidak disadari hingga beberapa hari, bahkan beberapa minggu, namun para ahli memperkirakan bahwa jumlahnya mencapai 30.000 per tahunnya. Petugas kebersihan yang bertanggung jawab juga menyebutkan bahwa jumlahnya mungkin dua hingga tiga kali lipat dari angka tersebut.

Akar Permasalahan Kodokushi dan Fenomena Ini di Indonesia

Sebenarnya, sama seperti di Indonesia, kultur keluarga di Jepang terbentuk sedemikian rupa hingga sebuah keluarga kerap bertanggung jawab dan harus mengurus anggota keluarga yang sudah lanjut usia. Namun, bedanya dengan di Indonesia adalah angka pernikahan di Jepang kian menurun, jumlah warga lajang yang tinggal sendiri semakin banyak, dan jumlah anggota keluarga semakin mengecil. Faktanya, 1 dari 4 laki-laki Jepang berusia 50 tahun belum pernah menikah. Angka ini diprediksi akan mengecil menjadi 1:3 di tahun 2030.

Selain itu, perbedaan paling signifikan juga terletak pada kultur ketetanggaan di Jepang. Berbeda dengan Indonesia dimana ketetanggaan dan gotong-royong adalah hal yang sangat esensial, serta saling bantu-membantu dengan tetangga merupakan hal lumrah, Jepang dengan alasan kesopanan hampir tidak pernah mengganggu tetangganya untuk meminta tolong akan hal apapun. Alhasil, interaksi antar tetangga di Jepang pun sangat minim dan berujung pada isolasi. Bahkan, menurut hasil studi, 15% warga lanjut usia di Jepang hanya melakukan 1 percakapan dalam seminggu!

Meskipun saat ini kondisi Indonesia sangat bertolak belakang dengan Jepang, tidak ada salahnya Anda tetap menjaga dan mempererat hubungan dengan kerabat maupun tetangga untuk memperkecil kemungkinan fenomena ini terjadi, ya ?.