Ketahui Tentang Orthorexia, Obsesi Memiliki Pola Makan Sehat Yang Justru Tidak Menyehatkan

Ketahui Tentang Orthorexia, Obsesi Memiliki Pola Makan Sehat Yang Justru Tidak Menyehatkan

Informasi Terkini – Menjalani pola hidup sehat menjadi impian bagi semua orang untuk masa depan yang lebih baik. Banyak cara dapat dilakukan untuk menerapkan pola hidup sehat, salah satunya mengonsumsi makanan sehat. Seseorang yang hanya mengonsumsi makanan sehat pastinya akan menjadi sangat teratur dan disiplin dalam memilih makanan. Namun, tahukah Anda, bahwa ada sebuah kelainan di mana seseorang hanya ingin makan makanan tertentu yang dianggapnya sehat?

1. Apa itu orthorexia?

Orthorexia adalah gangguan pola makan yang pengidapnya memiliki pemikiran tersendiri untuk mendapatkan pola makanan yang sempurna dengan hanya mengonsumsi makanan yang dianggapnya sehat, khususnya sayur dan buah. Penderita orthorexia cenderung sangat selektif dalam memilih makanan dan membatasi dirinya mengonsumsi makanan rendah kalori yang justru membuat mereka tidak mendapat asupan gizi seimbang.

Menurut Dr. Stephen Bratman, dokter yang menciptakan istilah ini pada tahun 1996, orang dapat mematuhi hampir semua teori makanan sehat tanpa memiliki gangguan makan. Istilah orthorexia sendiri ia ciptakan dari kata “ortho” yang berarti benar dan “orexia” yang berati lapar. Pada akhirnya, menjalani hidup sehat pun sirna dan berubah menjadi penyakit mental yang disebut orthorexia.

Othorexia biasanya dimulai sebagai minat untuk memulai makan sehat yang kian meningkat dari waktu ke waktu. Apa yang semula merupakan pilihan, kini berubah menjadi keharusan dan tidak dapat lagi memilih untuk melonggarkan aturan penderitanya. Akhirnya, mereka memiliki batasan terhadap makanan lain yang berdampak negatif bagi kesehatan. Mengonsumsi makanan yang tepat menjadi semakin penting dan menyingkirkan makanan lain yang seharusnya dibutuhkan sebagai penyeimbang gizi. Harga diri seseorang menjadi sangat terkait dengan kepatuhan mereka pada makanan pilihannya. Berikut kandungan makanan yang dihindari bagi penderita orthorexia:

– Rasa, warna, atau pengawet buatan
– Lemak, gula, dan garam
– Pestisida atau makanan yang dimodifikasi secara genetik
– Produk hewani atau susu
– Bahan lain yang dianggap tidak sehat

2. Mengenal mereka yang menderita orthorexia

Seseorang yang menderita orthorexia tidak memiliki kondisi fisik tertentu, karena penyakit ini menyerang psikologis. Berikut gejala yang dapat Anda kenali jika seseorang menderita orthorexia:

– Rasa khawatir berlebih atas pilihan makanan yang dikonsumsi ke dalam tubuh. Apakah makanan tersebut berdampak pada kondisi kesehatan, seperti asma, gangguan suasana hati, alergi, atau masalah pencernaan.
– Membatasi jenis makanan yang dikonsumsi. Hal ini disebabkan oleh pengurangan yang berlebihan pada jumlah makanan. Sering kali penderita orthorexia membatasi mengonsumsi makanan hingga 10 jenis makanan.
– Menghindari jenis makanan karena alergi yang belum didiagnosis secara medis.
– Peningkatan signifikan dalam mengonsumsi probiotik, obat herbal, dan suplemen lain yang dianggap memiliki efek sehat pada tubuh.
– Rasa khawatir yang tidak masuk akal atas persiapan makanan.

Selain perilaku obsesif, penderita orthorexia mungkin mengalami sejumlah reaksi emosinal terhadap makanan. Gejala-gejala emosional ini dapat meliputi:

– Perasaan puas dan bahagia dari makanan yang sehat dan bersih.
– Perasaan bersalah ketika mengonsumsi makanan yang dianggap tidak sehat dan bersih.
– Menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan makanan apa yang ingin dimakan.
– Membuat perencanaan makanan secara teratur dan merasa bersalah saat rencana tersebut tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
– Berpikir kritis dan menghakimi orang lain yang tidak memiliki pola makan sehat
– Menghindari makanan yang dibeli atau disiapkan dari orang lain
– Menciptakan jarak antara teman dan keluarga yang tidak memiliki keyakinan yang sama dengan mereka tentang makanan

3. Cara menangani orthorexia

Menjalani pola makan sehat bisa menjadi perilaku yang baik. Namun, ketika perilaku komplusif dan kesehatan mental ini mulai menganggu kualitas hidup, pada akhirnya akan memberi efek negatif seperti mengalami penurunan berat badan drastis, kekurangan gizi, atau beberapa jenis kondisi medis lainnya. Orthorexia juga dapat menyebabkan gangguan pada kehidupan sosial, akademik, hingga pekerjaan. Kehidupan para penderitanya akan sangat tergantung pada gaya hidup sehat sampai pada titik isolasi sosial.

Selain itu, penderita orthorexia seringkali juga mengalami gangguan kesehatan mental lainnya, seperti depresi, gangguan bipolar, panik dan kecemasan, serta pribadi yang komplusif. Upaya yang dapat dilakukan untuk keluar dari penyakit mental ini adalah dengan mengikuti sesi terapi bersama psikoterapi, ahli gizi, dan neurofeedback. Psikoterapi dan Terapi Perilaku Dialektik adalah dua jenis terapi bicara yang paling umum. Keduanya dapat mengurangi rasa cemas dan depresi dalam mengatasi orthorexia. Sedangkan, neurofeedback dapat dilakukan untuk mengubah gelombang otak yang mempengaruhi perilaku, suasana hati, dan pola pikir.

Jika Anda atau orang terdekat menunjukkan gejala orthorexia, jangan tunda untuk segera berkonsultasi dengan para profesional di bidangnya, ya, ladies.