Lisa BLACKPINK Jadi Korban Diskriminasi, Begini Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan Mental

Lisa BLACKPINK Jadi Korban Diskriminasi, Begini Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan Mental

Informasi Terkini – Beberapa waktu belakangan ini, salah satu personil BLACKPINK, Lisa, telah menerima serangan rasisme dan ujaran kebencian secara online karena ia adalah orang non Korea yang tergabung di dalam girlband Korea papan atas. Beberapa juga menyatakan kebencian terhadap personil BLACKPINK termuda ini atas kewarganegaraan, proporsi tubuh, dan serta bentuk wajahnya yang diklaim ‘terlalu Asia Tenggara.’ Diskriminasi rasisme yang terus menerus ini telah memicu kemarahan dari BLINK, sebutan untuk para fans BLACKPINK, yang dengan cepat menggunakan media sosial untuk mendukung idola mereka dan bahkan membuat tagar #RespectLisa menjadi trending topic di seluruh dunia.

Diskriminasi sebetulnya bukan merupakan hal yang asing di dalam masyarakat. Menurut data dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), tingkat diskriminasi ras dan etnis di Indonesia mencapai 80 persen, dengan 101 kasus dalam rentang tahun 2011-2018. Tentunya hal ini sangat patut untuk disayangkan. Menurut hasil penelitian, diskriminasi ternyata juga memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan mental para korbannya. Apa saja dampak negatifnya?

1. Korban Diskriminasi Memiliki Risiko Tinggi untuk Terkena Gangguan Mental

Penelitian oleh Dr. Laia Becares dan rekannya yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health berusaha untuk mengamati akumulasi pengalaman serangan diskriminasi yang dialami responden selama lima tahun. Dalam penelitian ini, masalah kesehatan mental terbukti secara signifikan lebih tinggi di antara kaum minoritas ras yang pernah mengalami diskriminasi dalam bentuk makian serta serangan fisik secara berulang bila dibandingkan dengan kaum minoritas yang tidak didiskriminasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa mereka merasa ketakutan untuk mendatangi tempat tertentu dan merasa tidak aman karena mengalami diskriminasi yang memiliki efek kumulatif terbesar pada kesehatan mental responden.

Menurut Vickie Mays, seorang profesor di Fielding School of Public Health UCLA, korban diskriminasi yang diperlakukan secara tidak adil memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan gangguan mental terkait dengan stres, seperti kecemasan dan depresi. Pengecualian atau penolakan yang ditujukan kepada Anda oleh orang lain karena alasan yang seringkali tidak Anda kendalikan dapat menyebabkan kekhawatiran ekstrem pada seseorang. Ini menghasilkan kecemasan, kesedihan, depresi dan perasaan bersalah dan hampa. Ini sering diterjemahkan menjadi depresi, kehilangan minat, gangguan makan dan penyakit terkait stres.

2. Bisa Terserang PTSD

Jika kondisi stres dan depresi ini tidak tertangani dengan baik, bukan tidak mungkin jika akan berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius, misalnya PTSD atau post traumatic stress disorder. PTSDadalah kondisi di mana penderitanya selalu mengalami panik secara terus menerus yang dipengaruhi oleh pengalaman traumatis di masa lalu. Diskriminasi tentunya berperan penting dalam hal ini karena dapat membuat korbannya mengalami trauma yang berkepanjangan hingga mendapatkan serangan fisik. PTSD pada umumnya lebih banyak dialami oleh wanita karena kondisi emosional wanita yang lebih sensitif jika dibandingkan dengan pria.

Karena itulah, diskriminasi sangat berbahaya jika terus menerus dilakukan di dalam lingkungan masyarakat. Diskriminasi muncul ketika muncul pendapat yang tidak ingin menghargai perbedaan yang memberikan warna pada kehidupan. Ingatlah pepatah ini: we are all very different and no one is more human than the other.