Masyarakat Masih Permisif Pada Politik Uang

Masyarakat Masih Permisif Pada Politik Uang

Informasi Terkini – Jakarta – Sigit Pamungkas yang merupakan Anggota dari Komisi Pemilihan Umum mengatakan kalau masyarakat masih permisif kepada politik uang pada saat menjelang pemilihan umum. Khususnya untuk masyarakat awam, pemilu juga masih dianggap sebagai salah satu aktivitas kerja, bukan sebagai pemenuhan hak dasar.

Sigit mengatakan kalau Logika dapat jual-beli dapat menjadi pemakluman oleh masyarakat. Hal tersebut diungkapkan oleh Sigit pada waktu berdiskusi dengan Ikatan Alumnus Fakultas Hukum Universitas Andalas di Sarinah, hari Ahad, 8 Desember 2013.

Politik uang juga akan semakin efektif kalau dilakukan dengan secara terbatas. Tetapi,kalau pemberian uang tersebut bertujuan untuk mencoblos calon yang tertentu masih dilakukan secara massif, dan efektivitasnya juga akan berkurang. Dia juga mengatakan kalau seandainya semua calon memberi uang, maka fungsi serangan fajar hilang. Hilangnya dari fungsi tersebut dapat disebabkan oleh kebingungan masyarakat untuk menentukan pilihannya.

Muhammad Yusuf yang merupakan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan mengatakan kalau ada tren tentang lonjakan transaksi keuangan saat mendekati pemilu. Ada juga sistem ijon jelang pemilu. Menurut dia, ekonomi yang ada di Indonesia, tumbuh tidak terlalu bagus. Nilai tukar dari dolar Amerika Serikat juga sedang naik. Kecil untuk kemungkinan transaksi yang dapat melonjak tersebut berkaitan dengan perdagangan.

Baginya,adanya lonjakan ini berkaitan dengan adanya pemilihan umum atau kepala daerah. Rekening dari partai itu jumlah nominalnya juga tidak banyak, tetapi transaksinya begitu atraktif.

J.Kristiadi selaku Pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies juga tidak menampik dengan adanya politik uang waktu menjelang pemilu. Tetapi sayangnya, kejahatan politik uang itu menjadi hal yang biasa untuk masyarakat. Dia merasa iba kepada mereka yang menerima uang politik. Kristiadi pun mengatakan kalau Mereka tidak bisa untuk dipersalahkan karena tingkat pendidikan dan juga kesejahteraannya yangrendah. Anggapan dari mereka itu merupakan rezeki.