Melakukan Self-Diagnose Terhadap Kesehatan Mental Itu Tidak Baik, Lho Ladies!

Melakukan Self-Diagnose Terhadap Kesehatan Mental Itu Tidak Baik, Lho Ladies!

Informasi Terkini – Masyarakat Indonesia sudah semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Jika dulu seseorang cenderung malu untuk mengakui kondisi mental yang dialaminya, kini orang-orang tak lagi ragu untuk memeriksakan dirinya ke psikolog atau terapis saat merasa ada yang ‘salah’ dengan dirinya. Kemudahan akses informasi mengenai kesehatan mental di internet juga membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Di satu sisi, hal ini tentu dapat membantu seseorang yang mengalami masalah dengan kesehatan mentalnya. Di sisi yang lain, hal ini justru dapat membuat seseorang melakukan self-diagnose terhadap kondisi mentalnya. Padahal, melakukan self-diagnose terhadap kondisi mental itu tidak baik, lho! Berikut penjelasannya.

1. Salah Diagnosa

“Dari kemarin kok merasa sedih melulu, ya? Jangan-jangan gue depresi, nih!”

Coba ingat-ingat lagi, apa Anda pernah melakukan hal tersebut? Menyadari ada yang berubah dengan diri kita adalah hal yang baik guna menjaga kesehatan mental. Namun, sebaiknya hal ini jangan hanya menjadi diagnosa pribadi tanpa mencari tahu kebenarannya. Mengalami satu atau dua gejala dari sebuah gangguan mental bukan berarti Anda menderita gangguan tersebut. Belum lagi, ada beberapa gangguan mental yang memiliki gejala serupa. Misalnya, kondisi cepat marah dan agresif dapat menjadi gejala dari gangguan bipolar atau siklotimik. Contoh lainnya adalah kebiasaan mengasingkan diri, yang dapat menjadi gejala dari depresi atau skizofrenia. Untuk mendapatkan diagnosa yang tepat, sebaiknya segera kunjungi ahlinya, ya!

2. Salah Penanganan

Salah diagnosa dapat berujung dengan salah penanganan. Penanganan yang tidak semestinya tentu tidak akan berpengaruh apa-apa dengan kesehatan mental Anda. Atau lebih buruk lagi, justru dapat menyebabkan gangguan yang Anda alami menjadi semakin parah. Misalnya saat kondisi yang seharusnya ditangani menggunakan obat, malah ditangani dengan terapi saja. Atau sebaliknya, kondisi yang seharusnya disertai dengan terapi, malah hanya mengandalkan obat saja.

3. Memberi Label Terhadap Diri Sendiri

Bahaya lainnya dari self-diagnose lainnya adalah munculnya kebiasaan memberikan label terhadap diri sendiri. Misalnya, Anda berpikir kalau diri Anda mengalami depresi. Kemudian, tanpa mengetahui kondisi yang sebenarnya, Anda terus melabeli diri sebagai seseorang yang mengalami depresi. Alih-alih membuat kondisi semakin baik, hal ini justru dapat memberikan dampak buruk atau bahkan, memperburuk gangguan mental yang tengah dialami.