Susu Kecoak Lebih Begizi Dari Pada Susu Sapi?

Susu Kecoak Lebih Begizi Dari Pada Susu Sapi?

Informasi Terkini – Kita pasti bergidik dan merasa jijik saat mendengar kata kecoa. Apalagi, harus menyantapnya.
Tapi, para ilmuwan justru mengklaim sekresi dari serangga ini bisa menjadi menu makanan yang menyehatkan. Susu kecoa, atau cairan tubuh yang diproduksi kecoa usai melahirkan, dianggap sebagai tren makanan terbaru untuk mereka yang tak menyukai produk susu.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa susu kecoa adalah minuman suplemen yang bergizi tinggi. Para ilmuwan percaya bahwa susu formula untuk bayi kecoak yang diproduksi Pacific Beetle Cockroach layak dikonsumsi oleh manusia.

Kandungan gizi yang ada dalam susu kecoak sangat mengejutkan. Hasil penelitian menunjukkan susu kecoak kaya akan protein, lemak, dan gula serta mengandung 3 sampai 4 kali lebih banyak energi ketimbang susu kerbau dan susu sapi.

Meski begitu, susu yang diekstrak dari kecoak bukanlah tipe susu yang dapat ditemukan di toko kelontong. “Setiap cairan yang dipanen dari kecoak tidak sepenuhnya berupa susu,” kata Becky Facer.

“Setidaknya tidak seperti yang kita pikirkan,” kata Direktur Program Sekolah dan Pendidik Fernbank Museum of Natural History di Atlanta itu.

Kristal protein terbentuk di perut kecoak pada saat binatang itu mengkonsumsi susu cair. Karena tidak bisa diperah, kristal protein itu diambil dari embrio serangga itu untuk kemudian diproses sedemikian rupa sehingga aman dikonsumsi oleh manusia.

Meskipun temuan ini membutuhkan penelitian lebih lajut, para ahli berharap jika serangga bisa menjadi sumber nutrisi yang layak dan berkelanjutan bagi manusia.

"Dalam penelitian terbaru tampaknya susu kecoa empat kali lebih bergizi daripada susu sapi,” papar Martina Della Vedova, seorang ahli nutrisi. Ia juga setuju jika susu kecoa mengandung kaya asam amino, lemak dan nutrisi lainnya.

Di satu sisi, kata Martina, berternak serangga dapat dilakukan dengan mudah dan lebih bertahan lama daripada berternak sapi. Tapi, kita juga tak mengetahui efek jangka panjang dari makanan ini untuk manusia.

Dan, jika terdapat jumlah maksimum harian, tentu kita harus mempertimbangkannya. Oleh karena itu, masih diperlukan lebih banyak penelitian yang harus dilakukan untuk keperluan ini. (byn)