Yuk! Ketahui Dampak Yang Tubuh Anda Akan Terima Jika Terlalu Mudah Marah-Marah!

Yuk! Ketahui Dampak Yang Tubuh Anda Akan Terima Jika Terlalu Mudah Marah-Marah!

Informasi Terkini – Dalam hidup, pasti ada saja satu atau dua hal yang akan membuat Anda kesal. Faktor penyebabnya pun beragam; bisa jadi karena bos yang menyebalkan, teman yang mendadak membatalkan janji, atau sesederhana internet yang tiba-tiba lemot. Rasa kesal yang bercampur dengan lelah, tak jarang mengakibatkan kekesalan seseorang jadi memuncak dan berujung pada rasa amarah. Well, jika bicara soal amarah, mungkin banyak dari Anda yang menganggapnya hanya sebagai kondisi mental saja, padahal sebenarnya kondisi ini juga menyangkut fisik, lho!

Menurut konselor profesional berlisensi Raychelle C. Lohmann, amarah memicu mode fight or flight response dalam tubuh, yaitu kondisi psikologis yang seseorang alami saat merasa dalam bahaya. Nah, mode ini akan menginisiasi berbagai perubahan fisik, seperti produksi hormon stres adrenalin dan kortisol, otot yang tegang, serta meningkatnya detak jantung, tekanan darah, suhu tubuh, dan tarikan nafas. Setelah Anda merasa marah, dibutuhkan waktu sekitar 20-60 menit sebelum tubuh kembali normal. Akibat adanya seluruh perubahan tersebut, fisik pun turut merasakan akibatnya. Lantas, apa saja dampak yang dirasakan?

1. Sakit kepala

Seperti yang sudah disebutkan di atas, saat marah, tubuh memproduksi hormon-hormon stres. Dari segudang dampak negatif yang disebabkan oleh stres pada tubuh, sakit kepala adalah salah satunya. Sakit kepala yang disebabkan oleh stres ini kerap disebut sebagai tension headaches atau stress headaches yang membuat kepala Anda terasa sesak di bagian dahi, sisi kanan-kiri, atau belakang leher. Selain sakit kepala, stres juga bisa menyebakan rasa sakit pada kulit kepala, lho!

2. Memengaruhi kondisi jantung

Menurut Chris Aiken yang berprofesi sebagai dokter sekaligus instruktur psikiatri klinis, salah satu dampak fisik yang paling merugikan dari amarah adalah efeknya pada kesehatan jantung. Dalam kurun waktu 2 jam setelah melepaskan rasa emosi, risiko Anda untuk mengalami serangan jantung bisa meningkat 2 kali lipat. Baik menahan amarah dalam diam maupun meluapkannya dengan cara mengamuk, keduanya ternyata sama-sama dapat memengaruhi kesehatan jantung. Sebagai solusinya, cobalah untuk mengenali dan mengontrol emosi Anda sebelum berubah menjadi amarah.

3. Meningkatkan risiko strok

Apakah Anda pernah melihat adegan sinetron atau film di mana salah satu karakternya marah, yang kemudian disusul oleh serangan strok tiba-tiba? Well, ternyata hal ini tidak bukan hanya bagian dagi adegan semata! Pasalnya, memang ada penelitian yang menunjukkan keterkaitan antara keduanya. Berdasarkan sebuah studi di tahun 2014, risiko seseorang untuk mengalami serangan strok bisa meningkat hingga 3 kali saat sedang marah. Untungnya, terdapat berbagai cara untuk menahan dan mengontrol emosi agar Anda tidak mudah marah. Jika tertarik, Anda juga bisa lho coba menahan emosi dengan trik ini!

4. Melemahkan sistem imun

Di tahun 2016, telah dilakukan studi keterkaitan antara amarah dan sistem imun seseorang oleh para peneliti Harvard. Hasilnya pun mengejutkan. Saat seseorang dalam keadaan yang sehat sengaja diminta untuk mengingat kembali pengalaman yang membuat mereka marah, rupanya kadar antibody immunoglobulin A (sel-sel terdepan yang menjadi pelindung terhadap infeksi) mereka langsung menurun, lho! Nah, jika Anda termasuk salah seorang yang mudah sekali untuk marah, sebaiknya hati-hati, ya! Kalau terlalu sering, bisa-bisa Anda jatuh sakit, nih!

5. Memengaruhi kesehatan paru-paru

Meski tidak merokok, ternyata amarah juga dapat memengaruhi kesehatan paru-paru, lho! Menurut studi yang dilakukan di Harvard pada tahun 2006, ditemukan bahwa para responden yang pemarah memiliki kondisi paru-paru yang secara signifikan lebih buruk ketimbang mereka yang tidak mudah marah. Kondisi paru-paru ini tentunya juga akan meningkatkan risiko masalah pernapasan di kemudian hari. Para peneliti berteori bahwa penyebabnya adalah hormon stres yang dapat menyebabkan inflamasi di jalur pernapasan.